Paris

image

Judul : Paris: Aline

Penulis : Prisca Primasari

Penerbit : Gagas Media

Terbit : 2012-2013

Tebal : 214

Score: ☆☆

Ehem!! Mungkin ini akan sedikit terlambat, hehe… saya sibuk sekolah pagi tadi dan saya tidak sempat menulis resensi ini di laptop karena laptop minta adik baru alias rusak-_- jadi yaa… begitulah-_-

Oke, kembali ke topik yang ingin saya bahas, kali ini saya akan meresensi buku Paris.

Oke, pertama ekspektasi saya tentang Paris sungguh besar, hampir semua orang memuji-muji buku tersebut dengan komentar positif dan rating yang cukup membuat saya tercengang. Cukup menggiurkan dengan beberapa resensor besar yang membesar-besarkan novel ini.

Tapi setelah saya mendapat kiriman buku dari santa saya, saya sedikit mengurangi rasa bahagia saya setelah selesai membaca buku tersebut. Bagus, tapi bukan yang terbaik. Ide yang disuguhkan lumayan bagus, tentang seorang Aeolus Sena yang disekap oleh keluarga pemilik reparasi mesin tik yang kehilangan anak lelaki mereka dan Aline Ofeli yang terpaksa harus kuliah di Paris akibat mendiang ayahnya yang menyuruh Aline untuk berkuliah di Paris.

Sebenarnya, cerita awal saat Aline bertemu dengan Sena sudah cukup menarik, tapi entah kenapa seiring bergulirnya cerita, alur yang diberikan seperti dipercepat, terkesan tergesa-gesa dan semakin lama dibaca, karakter tokoh yang ada selalu stuck dan tidak ada perkembangan sama sekali. Cerita flat dan mudah ditebak (ya meskipun ada beberapa bagian yang cukup sulit ditebak, tapi pada akhirnya setelah saya tahu cerita sebenarnya saya ahanya bisa ber’oh’ ria). Dan tidak ada perkembangan di pada setiap karakter. Sungguh disayangkan, padahal judul yang diambil adalah tempat saya ingin meraih cita-cita.

Tapi ada juga kelebihan yang bisa didapat dari cerita ini. Dari segi penggambaran tempat, aku suka. Meskipun tidak terlalu detail, tapi cukup menambah wawasan tentang tempat-tempat di Paris. Bahasa Perancis yang diselipkan di beberapa tempat juga bagus, menambah lagi daftar kosa kata yang saya miliki dalam otak meskipun hanya kata sederhana.

Dan untuk masalah penerbitan, kertas yang digunakan bagus, klasik seperti ingin menunjukkan bahwa Paris kota tua, hehehe. Tapi yang bikin sebal adalah cover buku yang lemnya kurang rekat, menyebabkan bukunya menjafi rapuh saat dibuka. Covernya menarik, pemilihan warnanya yang bagus membuat mata jadi tak jengah melihatnya.

Yah, untuk semua yang sudah penulis berikan, saya hargai, tapi untuk kedepannya tolong diusahan agar lebih bagus lagi dalam hal penulisan, jangan tergesa-gesa saat hendak menyelesaikan sebuah permasalahan.

[Event] Secret Santa 2013

[Event] Secret Santa 2013

Huaaa~ udah lama gak ikutan event dan biasanya kalo ikutan event aku sering lambos, wkwkwk. Udah lama juga aku gak nulis disini, tapi karena event yang diadakan BBI yaitu Secret Santa 2013 akhirnya aku ikutan deh, huehehehe…

Karena aku lupa sama password akunku di Goodreads akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan tentang buku yang ingin aku dapatkan dari seorang Secret Santa ^^ aku sih maunya bukunya Robert Galbraith yang The Cuckoo’s Calling /slapped.

Anyway, aku lagi pengen baca buku Metropop, soalnya aku ikutan challenge Indonesian Romance Reading Challenge 2014 di sini ^^ jadi sekalian aja deh, huehehehe… buku yang mau aku baca kali ini adalah…

PARIS by Prisca Primasari

17212431

Huray!! /\(^o^) (^o^)/\

Entah kenapa akhir-akhir ini suka banget sama hal-hal yang berhubungan sama Paris. Aku mau banget ke Paris, tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat, jadi akhirnya saya memilih buku ini biar meskipun jau sama Paris tapi terasa dekat dihati, hohoho… lagian banyak yang bilang buku ini bagus dan indah (apakah pujian ini begitu berlebihan?).

Buku ini adalah seri pertama dari proyek kolaborasi Setiap Tempat Punya cerita yang digagas ole GagasMedia dan Bukune. Penasaran banget sama buku ini, tipis pula Cuma 214 halaman. Semoga aku bisa dapatkan buku ini ^^ Amien…

The Secret Garden

The-Secret-Garden-_267674_h500Judul : The Secret Garden

Penulis : Frances Hodgson Burnett

Alih Bahasa : Barokah Ruziati

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Februari 2010

Tebal : 320 hlm; 20 cm

ISBN : 978-979-22-5490-7

Jika kau bertemu dengan Mary Lennox untuk pertama kalinya, kau akan menganggap dia adalah anak terjelek di India. Tidak ada anak yang paling suka memerintah dan membentak seperti dia. Mary bukanlah anak yang ceria, seperti kebanyakan anak-anak lain. Sampai suatu hari seluruh orang di dalam bungalo Mary terjangkit penyakit mematikan yang merenggut nyawa ayah dan ibunya yang menyebabkan Mary Lennox yatim piatu dan lebih terlupakan lagi.

Singkat cerita, Mary yang sudah tak memiliki siapapun di India harus dikirim ke Misselthwaite Manor dan harus tinggal bersama dengan pamannya, Mr. Archibald Craven, yang sakit-sakitan, bungkuk dan tak pernah tinggal di rumah yang berisi lebih dari seratus kamar untuk dihuni.

Semenjak tinggal di rumah pamannya itu, awalnya Mary tidak tahu menahu tentang sebuah taman yang tempatnya sangat dirahasiakan oleh pamannya. Karena penasaran, Mary pun mencoba mencari tahu tentang keberadaan taman yang kuncinya dikubur di dalam tanah. Sampai suatu hari, Mary menemukan kunci itu dengan bantuan sahabat burungnya. Dan dimulailah petualangan Mary Lennox di rumah barunya bersama dengan orang-orang yang tak pernah dia sangka akan dia temui…

Yah, untuk novel bagus aku kasih sinopsis sedikit, soalnya takut nanti spoiler, ha-ha-ha. Yah, mungkin review disini akan sangat pendek karena kalian tahu kan, buku ini bagus dan Frances Hodgson Burnett adalah penulis klasik favoritku juga dari sekian banyak penulis yang pernah aku baca. Dan kisah anak-anak selalu saja menggugah selera membaca.

Sebenarnya, buku ini sudah selesai terbaca sekitar sebulan yang lalu, tapi karena tidak ada ide untuk menulis review, akhirnya review buku ini mangkrak sampai berdebu. Tapi tak apa, toh akhirnya aku kembali menulis review yang kacang ini.*

Entah kenapa, sejak pertama kali membaca buku karya Madame Hodgson aku jadi selalu berdebar-debar, waktu itu baca A Little Princess dan aku secara gak sadar nangis menggeru-geru akibat ceritanya yang menyedihkan dan sekarang berulang lagi di buku ini. Aku sebenarnya nggak nangis waktu baca buku ini, tapi entah kenapa buku ini bisa membuat aku jadi menggebu-gebu untuk terus membaca, semacam terpacu adrenalin untuk menyelsaikan buku ini dengan amat sangat cepat.

OK, back to review!

Madame Hodgson menulis cerita yang sangat bagus, akan lebih bagus lagi kalau kita membacanya dalam bahasa aslinya, yaitu Bahasa Inggris. Entah kenapa, aku kurang sreg sama terjemahan Bahasa Indonesia buku ini, ada beberapa bahasa yang memang seharusnya beda dengan Bahasa Inggris, seperti Bahasa Yorkshire. Sebenarnya aku juga nggak ngerti sama Bahasa Yorkshire, tapi mau bagaimana lagi, lebih baik membaca yang asli daripada baca yang Bahasa Indonesia tapi rancu. Dan lagi yang disayangkan adalah cover buku yang kurang menarik minat anak-anak untuk membelinya. Meskipun ini buku klasik, tapi kan ini bercerita tentang dunia anak-anak dan kenapa harus diberi warna coklat dan gambar Mary di cover itu nggak cocok sama karakter tokoh yang ada dalam bukunya.

Tapi menurutku, bentuk visual dan segala macemnya itu gak mempengaruhi minatku untuk membeli buku ini karena cerita yang disuguhkan oleh penulis juga memiliki tema yang unik dan gak semua penulis bisa nulis cerita anak-anak yang punya makna sedalem novel remaja maupun dewasa lainnya. Dan buku ini adalah sedikit buku yang bikin aku sadar untuk menerima segala pemberian Tuhan dan terus berusaha untuk bangkit meskipun itu susah bangat untuk dijalani. Aku seneng banget pernah baca buku ini dala hidupku dan aku sama sekali nggak menyesal jadi fansnya Madame Hodgson.

Pokoknya buku ini adalah karya happy forever after dan long last as a inspirational book menurutku dan cocok banget dibaca oleh siapapun yang mau belajar memulai debut sebagai pembaca buku klasik.

Pulang

pulangdJudul : Pulang

Penulis : Leila S. Chudori

Penerbit : PT Gramedia, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Cetakan : I, Desember 2012

Tebal : viii + 464; 13,5 x 20 cm

ISBN : 13: 987-979-91-0515-8

1968

Le coup de foudre. Itulah yang dirasakan oleh Vivienne Devereux dan Dimas Suryo saat mereka pertama kali bertatap mata diantara kerumunan mahasiswa Universitas Sorbonne yang sedang mengalami masa sulit dari demo yang terlihat menyeruak. Begitu juga dengan Indonesia, tanah air Dimas, yang juga diguncang perseteruan akibat peristiwa G 30 S yang disebut pemerintah sebagai tindakan yang disebabkan oleh PKI. Sehingga seluruh masyarakat Indonesia yang merupakan anggota, pembela, keluarga mau simpatisan PKI dikejar oleh polisi.

Dimas tak bisa pulang karena visanya dicabut oleh kedutaan. Akibat dari semua itu berdampak pada kondisi keuangan Dimas dan ketiga temannya yang lain; Tjai, Risjaf dan Nugroho. Terluntang-luntung di negeri orang tidak membuat jera keempat anak manusia ini berusaha sampai pada akhirnya mereka mencoba membuka sebuah restaurant masakan Indonesia tetapi bergaya ala restaurant di Paris yang mereka beri nama Tanah Air. Dan dimulailah petualangan Dimas di Paris sebagai salah satu dan empat pilar Tanah Air bersama Tjai, Risjaf dan Nugroho.

Setelah bertahun-tahun lamanya, Lintang Utara, putri dari Dimas dan Vivienne, yang berkuliah di Universitas Sorbonne jurusan Sinematografi ditugaskan oleh dosennya untuk membuat sebuah film documenter dari kejadian tahun 1968 di Indonesia sebagai tugas untuk menentukan kelulusannya. Awalnya Lintang ragu dengan pilihannya pergi ke Indonesia, tapi dengan tekad yang bulat, tidak hanya untuk mengerjakan tugas akhir kuliah tapi juga untuk mengetahui sebagian dari dirinya yang tak pernah dia ketahui, datang ke Indonesia. Perjalanan yang panjang untuk memetik setiap arti dari I.N.D.O.N.E.S.I.A pun dimulai.

Pulang, adalah sastra Indonesia yang aku suka. Bu Leila sebagai penulis ahli dalam memanjakan imajinasi para pembaca dengan gaya penulisan, plot cerita, alur bahkan idenya yang brilliant. Jujur, aku bukanlah seorang yang terlalu mengerti sejarah, bahkan satu jam pelajaran di sekolah sudah membuatku blingsatan ingin ambil jam pelajaran lain waktu itu, sayang itu pelajaran wajib, ha-ha-ha!*

Emosi yang diciptakan oleh Bu Leila ini naik-turun buat aku, atau mungkin juga buat pembaca lain. Soalnya setiap kali membaca buku ini, seperti ada membuat kita merasa menjadi pemeran dalam bukunya, baik saat pada bagian Dimas Suryo dan Lintang Utara, namun emosinya mulai menurun di bagian Segara Alam. Aku tidak tahu apakah ini dampak karena sesungguhnya pemeran utamanya hanya Suryo beserta kelurganya saja atau karena Alam kurang didalami sehingga hasilnya jadi kurang terasa? Entahlah. Oh ya, dan di novel ini juga, aku kurang suka bagian saat-saat Lintang datang ke Indonesia dan bertemu Alam kemudian terkena demam le coup de foudre dan menurutku jatuh cinta pandangan pertamanya Lintang lebih lebay dari cinta pandangan pertamanya Vivienne.

Dan pada bagian penggeledahan LSM Satu Bangsa, penembakan mahasiswa Trisakti, kericuhan di halaman depan Universitas Trisakti saat ada ada mimbar bebas dan tempat bersemayam mahasiswa Trisakti dan di bagian terakhir kurang greget. Kenapa selalu bermasalah di bagian belakang sih? Harusnya Bu Leila bisa melempar bom molotov yang sewaktu-waktu bisa meledak setiap pembaca mulai membaca, minimal di beberapa titik di bagian Segara Alam. Banyak percintaan dan (tidak terlalu banyak) sejarah yang disajikan di bagian Segara Alam, apa mungkin karena Alam adalah seorang petualan cinta di cerita ini? Entahlah, yang penting aku kurang merasakan greget yang ‘yummy’ disini.

But, overall I enjoyed this book so much! No matter what (atau mungkin ya masalahnya hanya beberapa yang aku paparkan diatas? Ha-ha-ha). Aku jadi tahu sedikit tentang apa yang terjadi di tahun 1968 sampai turunnya Pak Soeharto, meskipun sedikit-sedikit. Toh nanti juga aku lupa lagi, ha-ha-ha.** Buku ini patut masuk wishlist, timbunan buku, bahan bacaan, mungkin bahan referensi fiksi-sejarah dan bukun penghantar tidur.

* Maaf kebanyakan curhat, tapi aku emang gak pernah bisa santai kalau pelajaran Sejarah, pasti berakhir dengan aku duduk di pojok belakang dan tidur XD

** Kebanyakan yang aku ingat cuma Platytelminthes, Nematelminthes sama Annelida. Crustacea juga aku ingat, soalnya mereka hewan laut yang banyak dijual di warung seafood, tapi aku pasti gatal-gatal kalau kebanyakan makan udang atau lobster. Kadang aku juga mengingat daur hidup lumut dan tumbuhan paku, kalau lumut dominan di gametofit, kalau paku dominan di sporofit. Yah, harap maklum ya T~T

The Time Keeper

16134222

Judul : Sang Penjaga Waktu (The Time Keeper)

Penulis : Mitch Albom

Alih bahasa : Tanti Lesmana

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Oktober 2012

Hlm : 312 hlm

 

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu diberi kesempatan untuk dapat mengatur waktu? Itulah yang dialami oleh Dor, manusia penemu waktu pertama sekaligus penjaga waktu itu sendiri yang telah ditunjuk oleh Tuhan. Setelah ribuan tahun ditempatkan di sebuah gua yang penuh dengan suara-suara manusia yang meminta sebuah waktu, Dor dikembalikan ke bumi untuk melakukan sebuah misi, menyatukan yang terpilih untuk satu waktu.

“Manusia jarang menyadari kekuatannya sendiri.” hal. 47

Victor Delamonte, orang terkaya ke-14 di dunia ini mengalami kanker ganas dan gagal ginjal, dan tidak ada harapan lagi untuk hidup. Setiap 3 kali seminggu dia harus menjalani cuci darah yang membuatnya muak. Sampai suatu hari ketika sistem krionika menggelitik keinginannya untuk mencoba bertahan hidup, dengan uangnya apapun akan dia lakukan demi satu lagi masa kehidupan.

“Bila kita diberi waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak akan bisa menghargai apa yang kita punya.” hal. 288

Sarah Lemon, gadis SMA kutu buku, merasa telah menemukan belahan jiwanya pada seorang lelaki bernama Ethan. Tapi saat cintanya bertepuk sebelah tangan, Sarah ingin sekali mematahkan seluruh waktu kehidupannya. Dia hanya ingin terlepas dari waktu…

“…Waktu bukanlah sesuatu yang bisa kau kembalikan. Saat berikutnya mungkin merupakan jawaban atas doamu. Menolaknya berarti menolak bagian yang paling penting dari masa depan.” hal. 274–275

Dan Dor mencoba untuk memperbaiki keadaan dan menyadarkan kedua anak manusia itu sebelum segala hal terlambat untuk disesali…

Mitch Albom, menggabungkan unsur fantasi, science fiction dan life learning dengan sempurna! Jika menurut kalian buku ini hanya sekedar novel biasa, menurutku novel ini bukan buku biasa. Buku ini adalah sebuah kumpulan (atau mungkin bisa disebut jurnal) perjalanan hidup Dor dari masa kanak-kanaknya yang telah menghitung waktu, saat dia ditempatkan di sebuah gua sambil menerima hukumannya, yang kemudian diturunkan ke bumi untuk menolong Victor dan Sarah, hingga dia meninggal berdampingan dengan istrinya, Alli. Roman singkat yang dipadukan dengan nilai-nilai kehidupan membuat buku ini jadi salah satu buku penghantar tidur favoritku.

Selain Dor, ada dua tokoh utama lain yang tidak kalah penting dengan peran Dor di buku ini, Sarah Lemon dan Victor Delamonte. Terlahir di waktu dan masa yang berbeda, Sarah Lemon seorang gadis SMA yang pintar dan Victor Delamonte seorang pengusaha terkaya ke-14 di seluruh dunia, dipersatukan untuk mengajarkan pada mereka bahwa waktu yang mereka miliki dan yang dibatasi oleh Tuhan adalah suatu anugerah yang patutnya dinikmati dan diperjuangkan.

Bahasa terjemahan buku ini mudah dimengerti dan dipahami, meskipun aku juga tidak tahu persis apakah lebih mudah dibaca dalam versi bahasa Inggris atau dalam bahasa terjemahan. Aku suka sekali dengan buku ini dan buku ini cocok untuk dijadikan rekomendasi bacaan yang siap mengantre dibelakang barisan.

“Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita.”

“Mengapa?”

“Supaya setiap hari itu berharga.” hal. 288

The Hunger Games

bookcover

Judul : The Hunger Games

Penulis : Suzanne Collins

Alih Bahasa : Hetih Rusli

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : VI, April 2012

Tebal : 408 hlm; 20 cm

ISBN : 978-979-22-5075-6

Amerika Utara telah musnah digantikan oleh sebuah negara bernama Panem yang dikelilingi dua belas distrik dengan Capitol sebagai pusatnya. Pada awal berdiri, Negara Panem dikelilingi oleh tiga belas distrik. Tapi akibat pemberontakan yang dilakukan oleh para penduduk setiap distrik, akhirnya distrik ke-13 dimusnahkan dan hanya dua belas distrik yang tersisa. Untuk mengingatkan setiap orang tentang peristiwa besar tersebut, diselenggarakanlah sebuah acara tahunan bernama Hunger Games. Setiap distrik akan mewakilkan dua anak, seorang perempuan dan lelaki, berusia 12 sampai 18 tahun dengan cara diundi namanya. Setiap peserta yang sudah masuk arena Hunger Games harus membunuh satu sama lain dan seorang yang berhasil bertahan akan menjadi seorang pemenang.

Katniss Everdeen, 16 tahun, tak pernah mengira akan terpilih sebagai salah satu pemain Hunger Games dari distrik 12. Sebetulnya, Katniss tak terpilih secara lagsung dalam pemungutan nama peserta Hunger Games di distriknya, tetapi Katniss menggantikan Primrose Everdeen, adiknya yang terpilih meskipun namanya Prim, panggilan Primrose, hanya terlulis dalam satu kertas saja. Katniss tidak sendiri menjadi pemain dalam Hunger Games ke-74, bersama Peeta Mellark mereka pergi ke Capitol didampingi oleh Haymitch, mentor mereka dalam Hunger Games dan Effie Trinket, orang Capitol yang ditugaskan ke distrik 12 untuk melakukan pemungutan suara.

Girl on fire. Nama yang melekat pada diri Katniss setelah beberapa kali tampil dalam sesi pertemuan pertama peserta Hunger Games dan sesi wawancara. Popularitas dan kenikmatan Capitol langsung saja didapatkan dengan mudah oleh Katniss, ditambah lagi pengakuan cinta dari Peeta, yang meskipun awalnya ditolak mentah-mentah oleh Katniss, akhirnya diterima juga untuk kepentingan acara TV yang sedang berlangsung, The Hunger Games dan juga nilai 11 yang dia dapatkan saat sesi latihan individual di hadapan para juri Hunger Games.

Tapi semua yang dia dapatkan selama pra-pertarungan tak berarti apa-apa di arena kecuali sumbangan dari para sponsor yang bisa saja membantu Katniss saat dalam marabahaya. Saat dalam arena, Katniss kaget saat melihat Peeta bergabung dengan anggota Karier, sebutan untuk para peserta yang sudah berlatih sepanjang hidupnya di distrik masing-masing. Tapi ternyata bergabungnya Peeta dalam kelompok Karier hanya untuk mengelabui mereka agar mereka tidak membunuh Katniss. Saat para Karier berusaha mengejarnya, dia bersekutu dengan Rue, gadis kecil dari distrik 11, sampai akhirnya Rue mati terbunuh oleh tombak dari seorang anggota kelompok Karier.

Dan pengumuman dari Claudius Templesmith bahwa dua orang dapat dinyatakan sebagai pemenang jika mereka berasal dari distrik yang sama menyentak Katniss untuk mencari Peeta. Dan setelah menemukan Peeta, mereka berdua berusaha untuk menjadi juara The Hunger Games dan mengalahkan lawan-lawan mereka.

I have honest to myself that this novel is the one of many books that can called as epic story. And honestly, I can’t left this book, though just for awhile. I really fall in love with this book, especially Gale. Tidak pernah mengira aku akan memuji-muji buku ini sebagai salah satu dari beberapa buku favoritku. Dan sejujurnya aku kecewa sekali waktu pertama tahu buku ini disbanding-bandingkan dengan novel Jepang karya Koushun Takami, Battle Royale. Haduh kan, aku curhat lagi di review kali ini.*

Meskipun tema yang dibawakan oleh Suzanne Collins dan Koushun Takami (secara background cerita) sama, harus bertahan hidup dengan membunuh satu sama lain dan salah satu yang bertahan akan menjadi juaranya tapi kan jika melihat dari latar tempat dan waktu bahkan suasananya, kedua buku ini amat-sangat-tak-dapat-dielakkan-lagi berbeda. That both of books are different of each other, the different author and different ways to explain their stories. Meskipun aku belum pernah baca Battle Royale, tapi aku yakin bahwa kedua buku ini berbeda! Apalagi di Catching Fire nanti ada tour yang dilakukan oleh Katniss dan Peeta ke seluruh distrik di Negara Panem. Dan di Mockingjay akan ada saat Katniss dilindungi oleh distrik 13 yang dianggapnya tak pernah ada.**

Buku pembuka yang cukup epic dengan sentilan drama dan romansa anak muda tetapi tidak menghilangkan kesan mendebarkan dan mengguncang saat penampilan perdana Hunger Games dimulai. Masih berkesan keras dan kasar untuk bagian pertarungan dan tidak melupakan unsur thriller sehingga pembaca dibuat tercengang dengan adegan yang sedang terjadi dan tidak akan berhenti membaca adegan berikutnya, bahkan akan mengulang kembali adegan yang terlewat untuk menikmati dan menambah kesan thriller yang ditimbulkan. Kesimpulan yang aku dapatkan setelah membaca buku ini.

Aku tidak mau terlalu lebay memberikan pendapat untuk buku ini, tapi yang keluar dari pemikiranku yang super awut-awutan ya… hanya yang diatas. Apa sih repotnya bilang buku ini bagus? Tapi sedikit kecewa dengan film yang telah rilis, tidak terlalu banyak menggambarkan imajinasiku, tapi bolehlah nanti filmnya dibahas juga.

Sekian saja untuk review buku yang kacangan ini. Memacu adrenalin dan tebakan-tebakan yang kadang akan meleset dari perkiraan.

* Haduh maaf ya, curhat lagi di review kali ini, ha-ha-ha!

** Haduh, kenapa aku bisa curhat sampai paragraph kedua? ._.

Love, Curse & Hocus-Pocus

LCHPCover_zpsac7aaeaa

<< Previous Series

Judul : Love, Curse & Hocus-Pocus

Penulis : Karla M. Nashar

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : II, Februari 2013

Tebal : 416 hlm; 20 cm

ISBN : 978-979-22-8976-3

 

“… Jangan pernah memakai otakmu untuk memutuskan apa yang hati kamu rasakan padanya. You have to feel it. Feel it with your heart. Feel it right there.

Apakah sebuah mimpi amat sangat nyata sampai-sampai kamu bisa merasakannya lagi meskipun telah terbangun dari tidurmu? Dan bolehkah mimpi itu dianggap sebagai sebuah kenyataan yang benar-benar ada? Mungkin saat ini Troy dan Gadis, yang baru saja membuka mata mereka dari mimpi mereka yang aneh, masih belum bisa menjawab pertanyaan tersebut. Sampai akhirnya mereka ada di ulang tahun BPI yang ke-50 dengan perasaan yang getir akan mengulangi lagi perbuatan mereka yang membuat mereka harus menjadi suami istri dalam mimpi dan dengan perasaan was-was tak dapat menemukan gipsi tua yang telah (atau akan membuat lebih parah) hidup mereka yang jungkir balik setelah peristiwa yang mereka alami bersama dalam mimpi, padahal gipsi tua itu ada didepan mata.

Hidup mereka jadi lebih jungkir balik lagi setelah direktur BPI menugaskan mereka secara langsung untuk berangkat menghadiri sebuah konferensi internasional di London. Awalnya Troy menolak usulan itu, tapi karena Gadis akhirnya mereka berangkat bersama ke London.

Dalam perjalanan transit ke Singapura, mereka bertemu dengan Lucinda, mantan kekasih Troy saat tinggal di Amerika. Awalnya Troy tidak menyadari bahwa Gadis memerhatikan mereka berdua berjalan bersama, tapi akhirnya Troy sadar saat di dalam penerbangan Gadis menggunakan headphone yang tidak tertancap pada music player yang tersedia di tempat duduknya. Dia cermburu, pikir Troy.

Hidup mereka jadi lebih rumit setelah pesawat mereka menuju London mengalami turbulensi ekstrem, mereka pingsan selama sepuluh jam dan mendapati mereka mendapatkan mimpi-mimpi lain yang lebih membuat satu sama lain mempertanyakan perasaan masing-masing. Dan Gadis yang merasa sedih karena telah kehilangan bayi kembarnya bersama Troy, dalam mimpi, memilih untuk menghindari Troy.

Belum lagi saat menghadiri konferensi internasional, Gadis bertemu dengan cinta pertamanya di SMA bernama Putra yang membuat Troy amat merasa marah dan mencoba untuk membuat Putra bermoral buruk di depan Gadis setelah sepuluh tahun mereka tak bertemu. Ditambah lagi dengan lamaran Putra pada Gadis yang meskipun belum disetujui oleh Gadis, tapi telah membuat Troy marah dan memikirkan lagi tentang perasaannya pada Gadis.

Dan yang membuat mereka, Gadis dan Troy, merasa harus menyelesaikan permasalahan tentang mimpi aneh mereka cepat-cepat, adalah mimpi buruk lain yang telah menyusul. Baik Gadis maupun Troy, mereka sama-sama bisa melihat bagian-bagian dalam mimpi mereka secara jelas dalam keadaan sadar seperti hal itu adalah kenangan yang telah lama terjadi dan perlu diingat oleh mereka.

Meskipun mereka adalah musuh, tapi mereka tetap sadar bahwa mereka harus menemukan orang yang bisa mempertanggung jawabkan permainan mimpi aneh mereka. Dan dimulailah perjalan panjang mereka di London…

What the hell? Amat sangat disayangkan seri ini harus berakhir begitu cepat, kenapa nggak diperpanjang seperti cerita Harry Potter dan Robert Langdon saja? Ha-ha-ha! Tapi kalau menurutku jauh lebih tidak dilanjutkan karena pembaca akan lebih merasakan kesan yang mendalam jika mereka bisa melanjutkan sendiri alurnya dengan jalan cerita ciptaan mereka. Toh mereka, Gadis dan Troy, juga akan menikah setelah pulang dari London. Aduh, rasanya seneng bisa menemukan Metropop yang nggak kacangan seperti ini, apalagi membayangkan Kota London membuatku mupeng. Duh, kenapa aku selalu curhat di paragraph pertama? Ha-ha-ha.

Back to review, Karla M. Nashar berhasil lagi membuat cerita mengalir deras, sederas air terjun, ha-ha-ha! Dan dia juga nggak lupa menyelipkan beberapa pelajar berharga untuk para pencari cinta yang membaca novel ini. Seperti kata Lyubitshka di halaman 15,

“… Kita memang melihat kehidupan ini dengan sepasang mata, tapi dengan hatilah kita baru bisa benar-benar menatap apa yang ada di dalam kehidupan ini”

How beautiful it is. Apalagi buat aku yang masih anak sekolahan, yang… ehem! Belum punya pacar maksudnya.  Dan peran Lyubitshka disini amat sangat proporsional, mengingat jalan cerita yang berusaha menjelaskan bahwa, “Cinta bukan ditemukan dengan bantuan peramal cinta atau perantara apapun itu, tapi cinta ditemukan sendiri oleh hati mereka yang merasakan.” (sepemahamanku dalam buku ini sih…) dan yang membuat aku semakin kagum adalah bagaimana Karla M. Nashar mampu membuat cerita dengan tema simple ini punya permainan yang complex didalamnya. Bagaimana Troy dan Gadis bertemu dengan orang di masa lalu mereka, si Lucinda dan Putra. Tapi agak klise juga sih yang bagian si Gadis lupa mencolokkan headphone-nya di pesawat dan ketahuan juga dia nguping si Troy sama Lucinda ngomong. Tapi malu juga sih kalau kita sendiri yang mengalaminya, ha-ha-ha!

Trus di bagian Gwen mencoba menggoda Putra akibat perintah dari Troy itu semacam, klise bangeeeeetttt bo’! bisa ketebak dari waktu Gwen ngedeketin Putra di deket kamar mandi kalau yang nyuruh itu si Troy. Dan ada beberapa jalan ceritanya bisa ditebak kalau kejadiannya bakal seperti ini atau seperti itu. Tapi apa sih masalahnya kalau hal itu tidak akan membuat kamu bosan mengikuti alur ceritanya yang lancar? I mean, not every story that can you predict can make you bored. Seperti kataku, ada dua jenis pemikiran saat sebuah cerita alurnya bisa diraba, kalau tidak membosankan ya menarik. Dan novel ini menarik untuk diiukuti jalan ceritanya. Paham kan readers?* ha-ha-ha!

Dan dalam novel ini, si Troy nggak dibuat lebay lagi sama si penulis, say yoohoo… Meskipun masih sibuk sama outfit yang Troy gunakan, tapi seenggaknya Troy nggak separah waktu di Love, Hate & Hocus-Pocus yang suka bersolek, ha-ha-ha!

Jadi, Cuma mau mengucapkan congratulations buat penulisnya yang sudah membuat aku terpukau sama sosok Troy yang flamboyan! Tapi Gadis juga nggak kalah dramatic kok untuk dijadikan idola di novel ini.

“Love is simple, but most people tend to overanalyze it”

* Kalo nggak ngerti maksudku, tolong pikir sendiri yah, lagi asyik ngedengerin ZELO ngerap, ha-ha-ha! (Maaf banyak ketawa lagi u,u)