Love, Curse & Hocus-Pocus

LCHPCover_zpsac7aaeaa

<< Previous Series

Judul : Love, Curse & Hocus-Pocus

Penulis : Karla M. Nashar

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : II, Februari 2013

Tebal : 416 hlm; 20 cm

ISBN : 978-979-22-8976-3

 

“… Jangan pernah memakai otakmu untuk memutuskan apa yang hati kamu rasakan padanya. You have to feel it. Feel it with your heart. Feel it right there.

Apakah sebuah mimpi amat sangat nyata sampai-sampai kamu bisa merasakannya lagi meskipun telah terbangun dari tidurmu? Dan bolehkah mimpi itu dianggap sebagai sebuah kenyataan yang benar-benar ada? Mungkin saat ini Troy dan Gadis, yang baru saja membuka mata mereka dari mimpi mereka yang aneh, masih belum bisa menjawab pertanyaan tersebut. Sampai akhirnya mereka ada di ulang tahun BPI yang ke-50 dengan perasaan yang getir akan mengulangi lagi perbuatan mereka yang membuat mereka harus menjadi suami istri dalam mimpi dan dengan perasaan was-was tak dapat menemukan gipsi tua yang telah (atau akan membuat lebih parah) hidup mereka yang jungkir balik setelah peristiwa yang mereka alami bersama dalam mimpi, padahal gipsi tua itu ada didepan mata.

Hidup mereka jadi lebih jungkir balik lagi setelah direktur BPI menugaskan mereka secara langsung untuk berangkat menghadiri sebuah konferensi internasional di London. Awalnya Troy menolak usulan itu, tapi karena Gadis akhirnya mereka berangkat bersama ke London.

Dalam perjalanan transit ke Singapura, mereka bertemu dengan Lucinda, mantan kekasih Troy saat tinggal di Amerika. Awalnya Troy tidak menyadari bahwa Gadis memerhatikan mereka berdua berjalan bersama, tapi akhirnya Troy sadar saat di dalam penerbangan Gadis menggunakan headphone yang tidak tertancap pada music player yang tersedia di tempat duduknya. Dia cermburu, pikir Troy.

Hidup mereka jadi lebih rumit setelah pesawat mereka menuju London mengalami turbulensi ekstrem, mereka pingsan selama sepuluh jam dan mendapati mereka mendapatkan mimpi-mimpi lain yang lebih membuat satu sama lain mempertanyakan perasaan masing-masing. Dan Gadis yang merasa sedih karena telah kehilangan bayi kembarnya bersama Troy, dalam mimpi, memilih untuk menghindari Troy.

Belum lagi saat menghadiri konferensi internasional, Gadis bertemu dengan cinta pertamanya di SMA bernama Putra yang membuat Troy amat merasa marah dan mencoba untuk membuat Putra bermoral buruk di depan Gadis setelah sepuluh tahun mereka tak bertemu. Ditambah lagi dengan lamaran Putra pada Gadis yang meskipun belum disetujui oleh Gadis, tapi telah membuat Troy marah dan memikirkan lagi tentang perasaannya pada Gadis.

Dan yang membuat mereka, Gadis dan Troy, merasa harus menyelesaikan permasalahan tentang mimpi aneh mereka cepat-cepat, adalah mimpi buruk lain yang telah menyusul. Baik Gadis maupun Troy, mereka sama-sama bisa melihat bagian-bagian dalam mimpi mereka secara jelas dalam keadaan sadar seperti hal itu adalah kenangan yang telah lama terjadi dan perlu diingat oleh mereka.

Meskipun mereka adalah musuh, tapi mereka tetap sadar bahwa mereka harus menemukan orang yang bisa mempertanggung jawabkan permainan mimpi aneh mereka. Dan dimulailah perjalan panjang mereka di London…

What the hell? Amat sangat disayangkan seri ini harus berakhir begitu cepat, kenapa nggak diperpanjang seperti cerita Harry Potter dan Robert Langdon saja? Ha-ha-ha! Tapi kalau menurutku jauh lebih tidak dilanjutkan karena pembaca akan lebih merasakan kesan yang mendalam jika mereka bisa melanjutkan sendiri alurnya dengan jalan cerita ciptaan mereka. Toh mereka, Gadis dan Troy, juga akan menikah setelah pulang dari London. Aduh, rasanya seneng bisa menemukan Metropop yang nggak kacangan seperti ini, apalagi membayangkan Kota London membuatku mupeng. Duh, kenapa aku selalu curhat di paragraph pertama? Ha-ha-ha.

Back to review, Karla M. Nashar berhasil lagi membuat cerita mengalir deras, sederas air terjun, ha-ha-ha! Dan dia juga nggak lupa menyelipkan beberapa pelajar berharga untuk para pencari cinta yang membaca novel ini. Seperti kata Lyubitshka di halaman 15,

“… Kita memang melihat kehidupan ini dengan sepasang mata, tapi dengan hatilah kita baru bisa benar-benar menatap apa yang ada di dalam kehidupan ini”

How beautiful it is. Apalagi buat aku yang masih anak sekolahan, yang… ehem! Belum punya pacar maksudnya.  Dan peran Lyubitshka disini amat sangat proporsional, mengingat jalan cerita yang berusaha menjelaskan bahwa, “Cinta bukan ditemukan dengan bantuan peramal cinta atau perantara apapun itu, tapi cinta ditemukan sendiri oleh hati mereka yang merasakan.” (sepemahamanku dalam buku ini sih…) dan yang membuat aku semakin kagum adalah bagaimana Karla M. Nashar mampu membuat cerita dengan tema simple ini punya permainan yang complex didalamnya. Bagaimana Troy dan Gadis bertemu dengan orang di masa lalu mereka, si Lucinda dan Putra. Tapi agak klise juga sih yang bagian si Gadis lupa mencolokkan headphone-nya di pesawat dan ketahuan juga dia nguping si Troy sama Lucinda ngomong. Tapi malu juga sih kalau kita sendiri yang mengalaminya, ha-ha-ha!

Trus di bagian Gwen mencoba menggoda Putra akibat perintah dari Troy itu semacam, klise bangeeeeetttt bo’! bisa ketebak dari waktu Gwen ngedeketin Putra di deket kamar mandi kalau yang nyuruh itu si Troy. Dan ada beberapa jalan ceritanya bisa ditebak kalau kejadiannya bakal seperti ini atau seperti itu. Tapi apa sih masalahnya kalau hal itu tidak akan membuat kamu bosan mengikuti alur ceritanya yang lancar? I mean, not every story that can you predict can make you bored. Seperti kataku, ada dua jenis pemikiran saat sebuah cerita alurnya bisa diraba, kalau tidak membosankan ya menarik. Dan novel ini menarik untuk diiukuti jalan ceritanya. Paham kan readers?* ha-ha-ha!

Dan dalam novel ini, si Troy nggak dibuat lebay lagi sama si penulis, say yoohoo… Meskipun masih sibuk sama outfit yang Troy gunakan, tapi seenggaknya Troy nggak separah waktu di Love, Hate & Hocus-Pocus yang suka bersolek, ha-ha-ha!

Jadi, Cuma mau mengucapkan congratulations buat penulisnya yang sudah membuat aku terpukau sama sosok Troy yang flamboyan! Tapi Gadis juga nggak kalah dramatic kok untuk dijadikan idola di novel ini.

“Love is simple, but most people tend to overanalyze it”

* Kalo nggak ngerti maksudku, tolong pikir sendiri yah, lagi asyik ngedengerin ZELO ngerap, ha-ha-ha! (Maaf banyak ketawa lagi u,u)

 

Advertisements

One thought on “Love, Curse & Hocus-Pocus

  1. Pingback: Love, Hate & Hocus-Pocus | Book Activity

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s