Pulang

pulangdJudul : Pulang

Penulis : Leila S. Chudori

Penerbit : PT Gramedia, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Cetakan : I, Desember 2012

Tebal : viii + 464; 13,5 x 20 cm

ISBN : 13: 987-979-91-0515-8

1968

Le coup de foudre. Itulah yang dirasakan oleh Vivienne Devereux dan Dimas Suryo saat mereka pertama kali bertatap mata diantara kerumunan mahasiswa Universitas Sorbonne yang sedang mengalami masa sulit dari demo yang terlihat menyeruak. Begitu juga dengan Indonesia, tanah air Dimas, yang juga diguncang perseteruan akibat peristiwa G 30 S yang disebut pemerintah sebagai tindakan yang disebabkan oleh PKI. Sehingga seluruh masyarakat Indonesia yang merupakan anggota, pembela, keluarga mau simpatisan PKI dikejar oleh polisi.

Dimas tak bisa pulang karena visanya dicabut oleh kedutaan. Akibat dari semua itu berdampak pada kondisi keuangan Dimas dan ketiga temannya yang lain; Tjai, Risjaf dan Nugroho. Terluntang-luntung di negeri orang tidak membuat jera keempat anak manusia ini berusaha sampai pada akhirnya mereka mencoba membuka sebuah restaurant masakan Indonesia tetapi bergaya ala restaurant di Paris yang mereka beri nama Tanah Air. Dan dimulailah petualangan Dimas di Paris sebagai salah satu dan empat pilar Tanah Air bersama Tjai, Risjaf dan Nugroho.

Setelah bertahun-tahun lamanya, Lintang Utara, putri dari Dimas dan Vivienne, yang berkuliah di Universitas Sorbonne jurusan Sinematografi ditugaskan oleh dosennya untuk membuat sebuah film documenter dari kejadian tahun 1968 di Indonesia sebagai tugas untuk menentukan kelulusannya. Awalnya Lintang ragu dengan pilihannya pergi ke Indonesia, tapi dengan tekad yang bulat, tidak hanya untuk mengerjakan tugas akhir kuliah tapi juga untuk mengetahui sebagian dari dirinya yang tak pernah dia ketahui, datang ke Indonesia. Perjalanan yang panjang untuk memetik setiap arti dari I.N.D.O.N.E.S.I.A pun dimulai.

Pulang, adalah sastra Indonesia yang aku suka. Bu Leila sebagai penulis ahli dalam memanjakan imajinasi para pembaca dengan gaya penulisan, plot cerita, alur bahkan idenya yang brilliant. Jujur, aku bukanlah seorang yang terlalu mengerti sejarah, bahkan satu jam pelajaran di sekolah sudah membuatku blingsatan ingin ambil jam pelajaran lain waktu itu, sayang itu pelajaran wajib, ha-ha-ha!*

Emosi yang diciptakan oleh Bu Leila ini naik-turun buat aku, atau mungkin juga buat pembaca lain. Soalnya setiap kali membaca buku ini, seperti ada membuat kita merasa menjadi pemeran dalam bukunya, baik saat pada bagian Dimas Suryo dan Lintang Utara, namun emosinya mulai menurun di bagian Segara Alam. Aku tidak tahu apakah ini dampak karena sesungguhnya pemeran utamanya hanya Suryo beserta kelurganya saja atau karena Alam kurang didalami sehingga hasilnya jadi kurang terasa? Entahlah. Oh ya, dan di novel ini juga, aku kurang suka bagian saat-saat Lintang datang ke Indonesia dan bertemu Alam kemudian terkena demam le coup de foudre dan menurutku jatuh cinta pandangan pertamanya Lintang lebih lebay dari cinta pandangan pertamanya Vivienne.

Dan pada bagian penggeledahan LSM Satu Bangsa, penembakan mahasiswa Trisakti, kericuhan di halaman depan Universitas Trisakti saat ada ada mimbar bebas dan tempat bersemayam mahasiswa Trisakti dan di bagian terakhir kurang greget. Kenapa selalu bermasalah di bagian belakang sih? Harusnya Bu Leila bisa melempar bom molotov yang sewaktu-waktu bisa meledak setiap pembaca mulai membaca, minimal di beberapa titik di bagian Segara Alam. Banyak percintaan dan (tidak terlalu banyak) sejarah yang disajikan di bagian Segara Alam, apa mungkin karena Alam adalah seorang petualan cinta di cerita ini? Entahlah, yang penting aku kurang merasakan greget yang ‘yummy’ disini.

But, overall I enjoyed this book so much! No matter what (atau mungkin ya masalahnya hanya beberapa yang aku paparkan diatas? Ha-ha-ha). Aku jadi tahu sedikit tentang apa yang terjadi di tahun 1968 sampai turunnya Pak Soeharto, meskipun sedikit-sedikit. Toh nanti juga aku lupa lagi, ha-ha-ha.** Buku ini patut masuk wishlist, timbunan buku, bahan bacaan, mungkin bahan referensi fiksi-sejarah dan bukun penghantar tidur.

* Maaf kebanyakan curhat, tapi aku emang gak pernah bisa santai kalau pelajaran Sejarah, pasti berakhir dengan aku duduk di pojok belakang dan tidur XD

** Kebanyakan yang aku ingat cuma Platytelminthes, Nematelminthes sama Annelida. Crustacea juga aku ingat, soalnya mereka hewan laut yang banyak dijual di warung seafood, tapi aku pasti gatal-gatal kalau kebanyakan makan udang atau lobster. Kadang aku juga mengingat daur hidup lumut dan tumbuhan paku, kalau lumut dominan di gametofit, kalau paku dominan di sporofit. Yah, harap maklum ya T~T

Advertisements