Paris

image

Judul : Paris: Aline

Penulis : Prisca Primasari

Penerbit : Gagas Media

Terbit : 2012-2013

Tebal : 214

Score: ☆☆

Ehem!! Mungkin ini akan sedikit terlambat, hehe… saya sibuk sekolah pagi tadi dan saya tidak sempat menulis resensi ini di laptop karena laptop minta adik baru alias rusak-_- jadi yaa… begitulah-_-

Oke, kembali ke topik yang ingin saya bahas, kali ini saya akan meresensi buku Paris.

Oke, pertama ekspektasi saya tentang Paris sungguh besar, hampir semua orang memuji-muji buku tersebut dengan komentar positif dan rating yang cukup membuat saya tercengang. Cukup menggiurkan dengan beberapa resensor besar yang membesar-besarkan novel ini.

Tapi setelah saya mendapat kiriman buku dari santa saya, saya sedikit mengurangi rasa bahagia saya setelah selesai membaca buku tersebut. Bagus, tapi bukan yang terbaik. Ide yang disuguhkan lumayan bagus, tentang seorang Aeolus Sena yang disekap oleh keluarga pemilik reparasi mesin tik yang kehilangan anak lelaki mereka dan Aline Ofeli yang terpaksa harus kuliah di Paris akibat mendiang ayahnya yang menyuruh Aline untuk berkuliah di Paris.

Sebenarnya, cerita awal saat Aline bertemu dengan Sena sudah cukup menarik, tapi entah kenapa seiring bergulirnya cerita, alur yang diberikan seperti dipercepat, terkesan tergesa-gesa dan semakin lama dibaca, karakter tokoh yang ada selalu stuck dan tidak ada perkembangan sama sekali. Cerita flat dan mudah ditebak (ya meskipun ada beberapa bagian yang cukup sulit ditebak, tapi pada akhirnya setelah saya tahu cerita sebenarnya saya ahanya bisa ber’oh’ ria). Dan tidak ada perkembangan di pada setiap karakter. Sungguh disayangkan, padahal judul yang diambil adalah tempat saya ingin meraih cita-cita.

Tapi ada juga kelebihan yang bisa didapat dari cerita ini. Dari segi penggambaran tempat, aku suka. Meskipun tidak terlalu detail, tapi cukup menambah wawasan tentang tempat-tempat di Paris. Bahasa Perancis yang diselipkan di beberapa tempat juga bagus, menambah lagi daftar kosa kata yang saya miliki dalam otak meskipun hanya kata sederhana.

Dan untuk masalah penerbitan, kertas yang digunakan bagus, klasik seperti ingin menunjukkan bahwa Paris kota tua, hehehe. Tapi yang bikin sebal adalah cover buku yang lemnya kurang rekat, menyebabkan bukunya menjafi rapuh saat dibuka. Covernya menarik, pemilihan warnanya yang bagus membuat mata jadi tak jengah melihatnya.

Yah, untuk semua yang sudah penulis berikan, saya hargai, tapi untuk kedepannya tolong diusahan agar lebih bagus lagi dalam hal penulisan, jangan tergesa-gesa saat hendak menyelesaikan sebuah permasalahan.

The Secret Garden

The-Secret-Garden-_267674_h500Judul : The Secret Garden

Penulis : Frances Hodgson Burnett

Alih Bahasa : Barokah Ruziati

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Februari 2010

Tebal : 320 hlm; 20 cm

ISBN : 978-979-22-5490-7

Jika kau bertemu dengan Mary Lennox untuk pertama kalinya, kau akan menganggap dia adalah anak terjelek di India. Tidak ada anak yang paling suka memerintah dan membentak seperti dia. Mary bukanlah anak yang ceria, seperti kebanyakan anak-anak lain. Sampai suatu hari seluruh orang di dalam bungalo Mary terjangkit penyakit mematikan yang merenggut nyawa ayah dan ibunya yang menyebabkan Mary Lennox yatim piatu dan lebih terlupakan lagi.

Singkat cerita, Mary yang sudah tak memiliki siapapun di India harus dikirim ke Misselthwaite Manor dan harus tinggal bersama dengan pamannya, Mr. Archibald Craven, yang sakit-sakitan, bungkuk dan tak pernah tinggal di rumah yang berisi lebih dari seratus kamar untuk dihuni.

Semenjak tinggal di rumah pamannya itu, awalnya Mary tidak tahu menahu tentang sebuah taman yang tempatnya sangat dirahasiakan oleh pamannya. Karena penasaran, Mary pun mencoba mencari tahu tentang keberadaan taman yang kuncinya dikubur di dalam tanah. Sampai suatu hari, Mary menemukan kunci itu dengan bantuan sahabat burungnya. Dan dimulailah petualangan Mary Lennox di rumah barunya bersama dengan orang-orang yang tak pernah dia sangka akan dia temui…

Yah, untuk novel bagus aku kasih sinopsis sedikit, soalnya takut nanti spoiler, ha-ha-ha. Yah, mungkin review disini akan sangat pendek karena kalian tahu kan, buku ini bagus dan Frances Hodgson Burnett adalah penulis klasik favoritku juga dari sekian banyak penulis yang pernah aku baca. Dan kisah anak-anak selalu saja menggugah selera membaca.

Sebenarnya, buku ini sudah selesai terbaca sekitar sebulan yang lalu, tapi karena tidak ada ide untuk menulis review, akhirnya review buku ini mangkrak sampai berdebu. Tapi tak apa, toh akhirnya aku kembali menulis review yang kacang ini.*

Entah kenapa, sejak pertama kali membaca buku karya Madame Hodgson aku jadi selalu berdebar-debar, waktu itu baca A Little Princess dan aku secara gak sadar nangis menggeru-geru akibat ceritanya yang menyedihkan dan sekarang berulang lagi di buku ini. Aku sebenarnya nggak nangis waktu baca buku ini, tapi entah kenapa buku ini bisa membuat aku jadi menggebu-gebu untuk terus membaca, semacam terpacu adrenalin untuk menyelsaikan buku ini dengan amat sangat cepat.

OK, back to review!

Madame Hodgson menulis cerita yang sangat bagus, akan lebih bagus lagi kalau kita membacanya dalam bahasa aslinya, yaitu Bahasa Inggris. Entah kenapa, aku kurang sreg sama terjemahan Bahasa Indonesia buku ini, ada beberapa bahasa yang memang seharusnya beda dengan Bahasa Inggris, seperti Bahasa Yorkshire. Sebenarnya aku juga nggak ngerti sama Bahasa Yorkshire, tapi mau bagaimana lagi, lebih baik membaca yang asli daripada baca yang Bahasa Indonesia tapi rancu. Dan lagi yang disayangkan adalah cover buku yang kurang menarik minat anak-anak untuk membelinya. Meskipun ini buku klasik, tapi kan ini bercerita tentang dunia anak-anak dan kenapa harus diberi warna coklat dan gambar Mary di cover itu nggak cocok sama karakter tokoh yang ada dalam bukunya.

Tapi menurutku, bentuk visual dan segala macemnya itu gak mempengaruhi minatku untuk membeli buku ini karena cerita yang disuguhkan oleh penulis juga memiliki tema yang unik dan gak semua penulis bisa nulis cerita anak-anak yang punya makna sedalem novel remaja maupun dewasa lainnya. Dan buku ini adalah sedikit buku yang bikin aku sadar untuk menerima segala pemberian Tuhan dan terus berusaha untuk bangkit meskipun itu susah bangat untuk dijalani. Aku seneng banget pernah baca buku ini dala hidupku dan aku sama sekali nggak menyesal jadi fansnya Madame Hodgson.

Pokoknya buku ini adalah karya happy forever after dan long last as a inspirational book menurutku dan cocok banget dibaca oleh siapapun yang mau belajar memulai debut sebagai pembaca buku klasik.